CARILAH ILMU SAMPAI KE NEGERI CHINA

Selasa, 17 Mei 2011

Makalah Inovasi

PENGGUNAAN MODEL PEMBELAJARAN SATU LAWAN SATU
UNTUK MENINGKATKAN AKTIVITAS SISWA DALAM MENULIS PANTUN DI KELAS VII SEMESTER GENAP
TAHUN 2010-2011

MAKALAH
Diajukan untuk memenuhi salah satu mata Kuliah
Manajemen Inovasi Pendidikan
Dosen Prof. Dr. H. Suherli, M.Pd



 






Disusun oleh:
TATI SUTIATI




PASCASARJANA UNIVERSITAS GALUH CIAMIS
TAHUN 2011





KATA PENGANTAR

            Assalamu’alaikum wr.wb
            Syukur Alhamdulillah penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, atas karunia Nya penulis dapat menyelesaikan makalah dengan judul “Penggunaan Model Pembelajaran Satu Lawan Satu Untuk Meningkatkan Aktivitas Siswa Dalam Menulis Pantun Di Kelas VII Semester Genap Tahun 2010-2011”
            Penulis Menyadari sepenuhnya bahwa dalam penyusunan makalah ini masih banyak kekeurangan, oleh karena itu segala kritik dan saran terhadap kekurangan-kekurangan tersebut akan penulis terima dengan senang hati demi kesempurnaan yang diharapkan.
            Dalam penulisan makalah ini, penulis banyak mendapat bantuan, bimbingan serta dorongan  dari berbagai pihak baik berbentuk moril maupun materiil. Penulis berharap semoga Allah SWT akan membalas budi baik pihak-pihak yang telah memberikan bantuannya kepada penulis. Akhir kata semoga makalah ini bermangfaat bagi berbagai pihak, bagi penulis khususnya dan pembaca pada umumnya.
            Wassalamu’alaikum Wr.Wb
Banjar, Mei 2011
      Penulis





DAFTAR ISI
                                                                                                                                 Halaman
HALAMAN  JUDUL…………………………………………… ………….i
KATA PENGANTAR………………………………………………………ii
DAFTAR ISI………………………………………………… …………….iii
BAB I PENDAHULUAN          
A.    Latar Belakang………………………………………………. 1
B.     Rumusan Masalah ……………………………………….. … 5
C.     Tujuan Penulisan………………………..……………..  …...  5
BAB II TINJAUAN TEORI
A.    Pembelajaran Paradigma Baru………………………………. 6
B.     Peran guru Dan tekhnik Mengajar…………………………..  8
BAB III PROGRAM PENANGGULANGAN
A.    Model Pembelajaran Satu Lawan satu………………… ……16
B.     Membuat Pantun Dengan Model satu Lawan Satu………..... 18
DAFTAR PUSTAKA








BAB I
PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang Masalah
            Suatu realita sehari-hari, didalam suatu ruang kelas ketika sesi  Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) berlangsung, Nampak beberapa atau sebagian siswa belum belajar sewaktu guru mengajar.  Sebagian besar siswa belum mampu mencapai kompetensi individual yang diperlukan untuk mengikuti pelajaran lanjutan. Juga beberapa siswa belum belajar sampai pada tingkat pemahaman.  Siswa baru mampu mempelajari (baca: menghafal) Fakta, konsep, prinsip, hukum,   teori dan gagasan inovatif lainnya pada tingkat ingatan, mereka belum dapat menggunakan dan menerapkannya secara efektif dalam pemecahan masalah sehari-hari yang kontekstual. Ini terjadi karena, guru belum optimal memperdayakan ‘tambang emas’ potensi masing-masing siswa yang sering kali tersembunyi.
            Hasil penelitian Badan Penelitian dan Pengembangan Pendidikan dan Kebudayaan, Depdiknas (BP3K, ketika itu), di sekolah dasar dan menengah pada tahun 1979, menunjukan antara lain bahwa pada umumnya gaya guru mengajar adalah berceramah sementara siswa mendengarkan. Sebagian besar guru yang diamati menggunakan sebagian besar waktu untuk menyampaikan informasi kepada siswa. Mereka seakan-akan mnganggap fungsi utama pengajaran adalah penyampaian informasi. Guru tampaknya kurang menyadari adanya teknik-teknik lain dalam pengajaran.
            Tidak heran setiap akhir tahun pembelajaran selalu terdengar berita tentang masyarakat yang selalu mempermasalahkan rendahnya mutu pendidikan pada semua jenis dan jenjang pendidikan, khususnya pada pendidikan dasar dan menengah. Tuntutan standar kelulusan yang harus dicapai siswa menjadi masalah guru maupun lingkungan pendidikan, bahkan sangat menghawatirkan bila pada tahun ini peristiwa pengumuman kelulusan seperti tahun lalu. Siswa yang belum lulus berjumlah tidak sedikit.
            Kalau masalah ini dibiarkan dan terus berlanjut, lulusan sebagai generasi penerus bangsa akan sulit bersaing dengan lulusan dinegara-negara lain. Lulusan yang diperlukan tidak sekedar yang mampu mengingat dan memahami informasi tetapi juga yang mampu menerapkannya secara kontekstual melalui beragam kompetensi. Di era pembangunan yang berbasis ekonomi dan globalisasi sekarang ini diperlukan pengetahuan dan keanekaragaman keterampilan agar siswa mampu memberdayakan dirinya untuk menemukan, menafsirkan, menilai dan menggunakan informasi, serta melahirkan gagasan kreatif untuk menentukan sikap dalam pengambilan keputusan.
            Guru merupakan faktor penting dalam pendidikan formal, karena itu harus memiliki perilaku dan kemampuan untuk mengembangkan siswanya secara optimal. Guru juga dituntut mampu menyajikan pembelajaran yang bukan semata-mata mentrasfer pengetahuan, keterampilan dan sikap, tetapi juga memiliki kemampuan meningkatkan kemandirian  siswa. Oleh karena itu guru dituntut sanggup menciptakan kondisi proses pembelajaran yang memberikan kebebasan kepada siswa untuk berfikir dan berpendapat sesuai perkembangan yang dimiliki, untuk itu guru dituntut meningkatkan kompetensi dirinya.
            Dalam menciptakan pembelajaran yang menyenangkan, peranan guru amatlah diharapkan, sehingga kegiatan belajar mengajar siswa dapa tercapai. Jadi guru  diharapkan dapat melaksanakan tugasnya secara baik sesuai profesinya. Guru sebagai sebuah profesi untuk itu penguasaan berbagai hal sebagai kompetensi dalam melaksanakan tugas harus ditingkatkan. Peningkatan kompetensi itu yaitu dalam proses belajar mengajar antara lain memilih dan memanfaatkan metode belajar yang tepat.
            Guru yang dapat memilih dan memanfaatkan metode mengajar dengan baik merupakan salah satu ciri guru yang efektif sehingga mampu mengembangkan siswa secara professional. Pengembangan siswa dengan mengutamakan siswa yang aktif dengan cara menciptakan suasana belajar yang menyenangkan bagi siswa tentu sangat diharapkan suasana itu dengan pembelajaran aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan (PAKEM) berarti peranan guru sangatlah besar. 
Sebagai tugas guru dalam melayani pendidikan sesuai usia remaja, maka diperlukan pelayanan guru dengan merancang suatu program pembelajaran yang dapat meningkatkan kompetensi siswanya, misalnya dengan merancang program pembelajaran yang menyenangkan karena belajar yang menyenangkan tidak ada lagi batasan dalam diri siswa. Kecerdasan siswa dapat berkembang sehingga kompetensi yang telah dimiliki dapat meningkatkan nilai-nilai prestasi yang diharapkan. Selain itu juga dapat meningkatkan kehormatan diri dan motivasi mereka. Menciptakan suatu program pembelajaran yang menyenangkan adalah salah satu cara dengan menempatkan peranan guru sebagai fasilitator, motivator, konselor dan evaluator. Diharapkan peranan itu dapat dimanfaatkan oleh guru agar dapat mewujudkan “Sumber Daya Manusia Unggul dan Bermartabat”. Agar sumber daya manusia itu dapat diwujudkan maka seorang guru diharapkan dapat berperan sebagai fasilitator, konselor, motivator, dan evaluator, maka perubahan paradigma dalam pembelajaran baru harus diciptakan.
Bahasa Indonesia merupakan salah satu mata pelajaran pokok, maka konsep belajar pun dapat diciptakan sesuai fungsinya yaitu bahasa sebagai alat komunikasi, maka diharapkan keterampilan berbahasa tetap pada tatanan empat aspek keterampilan berbahasa. Berdasarkan Kurikulum Berbasis Kompetensi, pada pembelajaran bahasa Indonesia kegiatan berbahasa mencakup empat aspek keterampilan, yaitu mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis. Keempat aspek itu haruslah diajarkan secara terpadu, bersinergi satu sama lainnya, seimbang dan saling mendukung. Selain keempat aspek penguasaan keterampilan berbahasa itu, juga harus dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam bernalar, berfikir, memperluas wawasan serta mendukung kegiatan bersastra. Kegiatan keterampilan berbahasa diharapkan dapat menunjang keterampilan akademis lainnya.
Berdasarkan uraian diatas, penulis yang merupakan salah satu guru bidang studi Bahasa Indonesia di sebuah MTs merasa tertarik untuk membuat makalah tentang penggunaan model pembelajaran yang bertujuan untuk meningkatkan aktivitas siswa khususnya dalam menulis pantun di kelas. Adapun makalah tersebut penulis beri judul “Penggunaan Model Pembelajaran Satu Lawan Satu Untuk Meningkatkan Aktivitas Siswa Dalam Menulis Pantun Di Kelas VII Semester Genap Tahun 2010/2011.
B. Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam makalah ini adalah bagaimana penggunaan model pembelajaran satu lawan satu untuk meningkatkan aktivitas siswa dalam menulis pantun di kelas VII semester genap Tahun 2010-2011?
C. Tujuan Penulisan
Menciptakan model pembelajaran yang baru untuk meningkatkan aktivitas siswa dalam menulis pantun di kelas VII semester genap tahun 2010-2011.



BAB II
LANDASAN TEORI
A.  Pembelajaran Paradigma Baru
Belajar itu adalah proses, maka yang paling berharga dalam belajar adalah “Bagaimana Cara Belajar”. Dalam pembelajaran paradigm baru kegiatan belajar pada minggu pertama, kegiatan menekankan pada upaya menciptakan suasana belajar aman dan penuh kepercayaan diantara siswa. Dengan cara demikian memungkinkan siswa belajar lebih efektif dan menyerap serta mengingat materi pelajaran “Belajar untuk menambah informasi maka saya tahu, menyimpan informasi maka saya hafal, memperoleh informasi saya bisa menjawab semua pertanyaan, memahami informasi saya mengerti, dan memahami kenyataan yang ada dan saya dapat melihat kejadian itu dari sisi lain”. (Bahan Diklat Guru Bahasa Indonesia, 2005).
Proses belajar tersebut, merupakan proses belajar dalam arti yang dangkal menuju proses belajar dalam arti yang dalam. Belajar dalam arti yang dalam adalah salah satu proses usaha individu untuk aktif mengkonstruksi/membangun pengetahuan serta senantiasa mengkonstruksinya kembali dengan sejumlah pengetahuan baru. Upaya menciptakan suasana belajar yang aman dan penuh kepercayaan, agar pembelajaran dalam proses aktif sehingga pembelajaran mampu dikembangkan untuk menjadi individu yang mandiri dalam belajar. Untuk mewujudkan suasana itu, maka diperlukan lingkungan sehingga semua siswa merasa penting,aman, dan nyaman. Dengan demikian keterampilan akademis dan keterampilan dalam hidup dapat dicapai.
Perubahan paradigma / perubahan sikap guru yang harus dipersiapkan adalah konsep belajar, peran guru dan teknik mengajar, teknik belajar serta sikap mengajar. Oleh karena pelajaran bahasa Indonesia merupakan salah satu mata pelajaran pokok, maka konsep belajar pun diciptakan sesuai fungsinya yaitu bahasa sebagai alat komunikasi, maka diharapkan keterampilan berbahasa tetap pada tatanan empat aspek keterampilan berbahasa. Berdasarkan Kurikulum Berbasis Kompetensi, pada pembelajaran bahasa Indonesia kegiatan berbahasa mencakup empat aspek keterampilan, yaitu mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis. Keempat aspek itu haruslah diajarkan secara terpadu, bersinergi satu sama lainnya, seimbang dan saling mendukung. Selain keempat aspek penguasaan keterampilan berbahasa itu, juga harus dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam bernalar, berfikir, memperluas wawasan serta mendukung kegiatan bersastra. Kegiatan keterampilan berbahasa diharapkan dapat menunjang keterampilan akademis lainnya.
Dalam kurikulum Berbasis Kompetensi, belajar adalah mempelajari berbagai hal secara terus menerus dalam pengalaman hidupnya. Siswa adalah peserta yang aktif, sehingga siswa mempelajari berbagai hal secara terus menerus sedangkan sekolah merupakan tempat untuk belajar. Kegiatan belajar adalah kegiatan sepanjang hayat, kegiatan yang tidak berhenti pada siswa tamat atau selesai sekolah, maka peran guru dan teknik mengajar perlu diperhatikan. Didalam proses belajar, menurut Bruner (2001) dapat dibedakan menjadi tiga fase/ episode, yaitu :
a.       Informasi
b.      Transformasi
c.       Evaluasi
Dalam pelajaran diperoleh sejumlah nformasi, baik yang menambah pengetahuan, memperluas, dan mendalaminya maupun informasi yang bertentangan dengan apa yang telah kita ketahhui sebelumnya. Setelah informasi diperoleh, maka harus dianalisis, diubah dan ditransformasi kedalam bentuk yang lebih abstrak atau konseptual, agar dapat digunakan untuk hal-hal yang lebih luas. Dalam hal ini peran guru sangat diperlukan. Untuk itu guru perlu memiliki kemampuan yang professional. Perlunya kemampuan guru dalam proses belajar mengajar karena guru merupakan pendidik dan pengajar yang menyentuh kehidupan pribadi siswa. Teknik mengajar untuk mengembangkan potensi yang dimiliki siswa dapat dirancang dengan memperhatikan materi, cara belajar siswa disesuaikan dengan usia siswa SMP.
B. Peran Guru dan Teknik Mengajar
1.      Peranan Guru
a.       Guru Sebagai Fasilitator
       Peranannya adalah sebagai penyedia yang bersifat sebagai pendukung kebutuhan siswa dalam kegiatan pembelajaran. Berdasarkan konsep belajar diatas bahwa belajar adalah suatu proses, maka dalam proses keterampilan mendengarkan dipersiapkan terlebih dahulu adalah siswanya, selain itu materi yang sangat penting untuk menjadi suatu proses belajar berlangsung, guru dapat menyiapkan teks/ wacana yang dibacakan atau menyediakan rekaman teks dalam kaset maka tape recorder dipersiapkan.
       Teknik dalam  kegiatan pembelajaran dapat dilakukan secara bervariasi, misalnya sebelum pelaksanaan pembelajaran dapat dilakukan secara bervariasi, misalnya sebelum pelaksanaan pembelajaran, guru terlebih dahulu memutar lagu atau bernyanyi berama. Hal ini dilakukan agar siswa menyiapkan diri dalam pembelajaran sehingga tidak stress. Mendengarkan (menyimak) lebih banyak dilakukan manusia sebagai bentuk penyerapan informasi daripada keterampilan berbahasa lainnya. Hal ini disadari karena banyaknya informasi melalui media elektronik maka membutuhkan kecepatan dan kecermatan menyimak.
       Dalam keterampilan berbicara, guru dapat merancang pembelajaran sesuai kompetensi yang harus dikuasai. Berbicara merupakan keterampilan berbahasa lisan maka materi pelajaran diarahkan pada pembelajaran yang bermanfaat bagi siswa, memberikan pengetahuan dan keterampilan yang dipelukan oleh siswa untuk mengembangkan potensi dirinya baik secara individu maupun kelompok sesuai kebutuhan siswa. Teknik pelaksanaannya dapat dilakukan dengan belajar mengucapkan kata-kata dengan vokal dan intonasi yang benar kemudian kegiatan intinya sesuai indikator yang harus dicapai. Materi disesuaikan dengan tuntutan kecakapan hidup sesuai kurikulum. Keterampilan membaca dan menulis merupakan keterampilan yang sangat erat hubungannya karena setiap kegiatan membaca dihubungkan dengan kegiatan menulis.
       Peran guru harus dapat memfasilitasi sesuai dengan kebutuhan. Menciptakan lingkungan  belajar yang kondusif yang sangat diharapkan. Khusus dalam hal keterampilaan menulis, pembelajaran diarahkan agar mampu menuangkan segala pikiran, pengalaman, pesan perasaan, gagasan, pendapat imajinasi dalam bentuk bahasa tulisan secara benar. Kebenaran itu dapat dilihat dari segi kebahasaan, isi dan makna. Tulisan dapat di dokumentasikan dan dapat dilihat dan dibaca ulang. Oleh karena itu pembelajaran menulis bagi siswa harus dianggap penting. Pentingnya pembelajaran menulis, maka guru harus sering melatih siswa dengan berbagai cara. Untuk mengaktifkan kegiatan menulis, berarti mengaktifkan otak kiri dan otak kanan dalam pembelajaran. Hal ini tidaklah mudah, persiapan harus dirancang sebaik mungkin.
       Menurut Sudjana dan Suwariyah (1999) ada beberapa kondisi dan persyaratan yang harus diciptakan guru dalam pembelajaran menulis antara lain:
1)   Aspek psikologi anak
       Aspek psikologi anak adalah kondisi mental, sosial dan emosional siswa pada saat ia mengikuti proses pembelajaran (sudjana dan suwariyah, 1991). Aspek ini harus dikembangkan dengan baik agar siswa beraktifitas dengan kreatif, dan mengembangkan daya nalar dengan baik. Aspek sosial dan emosional juga penting, karena hubungan interaksi antara siswa dengan siswa, siswa dengan guru atau siswa dengan lingkungan belajar lainnya. Kesetiakawanan dan kebersamaan harus ditumbuhkan sehingga menjadi manusia yang kokoh dan harmonis.
2)   Lingkungan dan suasana belajar
        Suasana dan lingkungan belajar adalah keadaan atau suasana pada saat pembelajaran berlangsung (Sudjana dan Suwariyah, 1991). Akan berlangsung baik bila lingkungan dan suasana belajar nyaman, tidak membosankan dan diharapkan siswa berkeinginan untuk kembali belajar. Dalam hal ini guru dapat mempersiapkan kelas atau ruangan lain yang dapat menunjang pembelajaran, Misalnya : halaman (tanaman sekolah) dan perpustakaan.
3)   Bimbingan dan bantuan belajar bagi guru
     Peran guru sebagai pembimbing adalah menjadi tempat bertanya bagi siswa yang mengalami kesulitan dalam belajar, memberi bantuan dengan menunjukan jalan untuk memecahkan masalah, memperbaiki kesalahan yang dilakukan siswa, memberi dorongan dan motivasi belajar. Dalam kegitan tersebut, berarti guru harus berada dalam lingkungan proses pembelajaran.
b.      Guru sebagai motivator
       Berdasarkan keempat aspek keterampilan berbahasa di atas yang telah diuraikan, maka peran untuk memotivasi siswa tetaplah diharapkan, misalnya mendorong siswa agar tetap berkonsentrasi pada kegiatan belajar. Selain itu juga mengajak siswa untuk melakukan refleksi diri, misalnya menyisihkan waktu untuk memikirkan siapa sebenarnya diri siswa, apa yang menyebabkan rasa puas, dll.
c.       Guru sebagai konselor
       Peran ini seperti yang telah diuraikan pada aspek bimbingan dan bantuan belajar guru. Hal ini, guru dapat memberi bantuan pada setiap pembelajaran sewaktu-waktu siswa membutuhkan maka bantuan nasehat untuk siswa dapat diberikan. Jadi, selain guru memegang mata pelajaran sebagai guru, juga bertugas melayani konseling.
d.      Guru sebagai evaluator
       Peran sebagai evaluator, bahwa setiap pembelajaran melakukan evaluasi sesuai indicator yang harus dicapai. Dalam mengevaluasi guru hendaknya kreatif dengan berbagai cara mengevaluasi dan memberikan penguatan agar keberhasilan belajar siswa dapat dirasakan. Dalam memberikan penilaian , guru dapat berkreatifitas membuat nilai dengan memberikan tanda bintang yang dibuat atau ditempel pada sebuah karton yang berbentuk buah atau bunga, lalu ditutup. Pada sisi luar digambar raut wajah sesuai isi bintang, misalnya bintang satu wajah sedih, bintang dua wajah tersenyum, bintang tiga senyum agak lebar dan bintang empat senyum lebar,  sedang gambar bintang lima tertawa sambil mengangkat tangan.
       Cara menyampaikan penilaiannya yaitu setelah para siswa mempresentasikan hasil kerja kelompoknya dan telah ditanggapi oleh kelompok lain. Selanjutnya guru akan menguji keberhasilan anggota kelompok dengan petanyaan sehubungan dengan materi. Apabila siswa dapat menjawab benar, maka siswa tersebut berhak membuka nilai yang telah ditempel atau digantungpada papan tulis.
2.    Teknik Belajar
             Dalam teknik belajar terbagi menjadi enam tipe utama yaitu: Visual Internal, Visual Eksternal, Auditory Internal, Auditiry Ekternal, Kinestik Internal, dan Kinestik Eksternal. (Ramli, 2004).
a.       Teknik belajar Visual Internal yaitu proses belajar dengan mengoptimalkan penglihatan dan mengeksplorasikan imajinasinya. Cara yang praktis adalah dengan menghidupkan imajinasi tentang hal yang akan dipelajari (ramli, 2004)
b.      Teknik belajar Visual Eksternal yaitu proses belajar dengan mengoptimalkan penglihatan dan mengeksplorasikan dunia luar dirinya. Cara yang praktis adalah membaca buku dengan tampilan yang menarik, menggunakan grafik dan gambar, pemangfaatan computer, poster, pembubuhan warna-warna yang menarik (Ramly, 2004).
c.       Teknik belajar Auditory Internal adalah cara belajar dengan menyukai lingkungan yang tenang. Dalam proses belajar, mengoptimalkan pendengaran dan mengeksplorasikan dunia dalam dirinya. Cara praktis dalam proses belajar ini adalah meluangkan waktu yang tenang untuk memulai belajar dan merenungkan apa yang sudah diketahui (Ramly, 2004).
d.      Teknik belajar Auditory Eksternal adalah cara belajar dengan mengoptimalkan pendengarannya dengan mengeksplorasikan dunia luar dirinya. Cara yang praktis dalam proses pembelajarannya adalah membaca dengan suara keras, menggunakan sesi Tanya Jawab, diskusi dan kerja kelompok (Ramly, 2004).
e.       Teknik Kinestik Internal adalah cara belajar dengan menyentuh rasa. Agar belajar efektif proses belajar dengan pemahaman terlebih dahulu, temukan faedah dari aktivitas siswa, gunakan alat bantu atau dalam bentuk demo. Proses belajar seperti ini cenderung begantung pada lingkungan (Ramly, 2004).
f.       Teknik Kinestik Eksternal Adalah proses belajar dengan mengoptimalkan emosi yaitu dengan beradaptasi terlebih dahulu dengan dunia luar dirinya. Proses belajar yang efektif yaitu dengan kemampuan panca indera, misalnya dengan menggunakan model, memainkan peran dengan membuat peta pikiran.
             Berdasarkan teknik atau cara belajar yang bermacam-macam, maka guru dituntut merancang program pembelajaran sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan talenta siswa. Guru diharapkan dapat mengembangkan kemampuannya untuk bersikap mengajar dengan baik. Sikap mengajar tersebut antara lain besikap bersikap demokratis, kreatif dan inovatif.
             Guru bersikap demokratis adalah sikap guru yang memberikan persamaan hak dan kewajiban yang sama bagi siswa. Guru yang kreatif adalah guru yang mampu mengembangkan kreatifitas dalam program pembelajaran misalnya menciptakan program pembelajaran baru dengan media yang mutakhir sesuai dengan perkembangan jaman, sedangkan guru yang bersifat inovatif adalah guru yang mampu melakukan pembaharuan dengan kreasi baru, mencoba memecahkan masalah pendidikan dengan cara-cara baru. Apabila sikap guru dapat terwujud, maka akan berimbas pada keberhasilan siswa dalam belajar, siswa aktif, mandiri, kritis dan kompetitif.



BAB III
A.     Model Pembelajaran Satu lawan Satu
Model pebelajaran satu lawan satu dalam membuat pantun dirancang  dengan mengikuti prinsip-prinsip khas yang edukatif. Kegiatan itu berfokus pada kegiatan aktif siswa dalam membangun makna atau pemahaman. Dengan demikian, guru hanya memberikan dorongan kepada siswa untuk menggunakan otoritas atau haknya dalam membangun gagasan. Tanggung jawab belajar tetap berada pada diri siswa, dan guru hanya bertanggung  jawab untuk menciptakan situasi yang mendorong prakarsa, motivasi, dan tanggung jawab siswa untuk belajar sepanjang hayat.
Pada dasarnya semua anak memiliki potensi untuk mencapai kompetensi. Kalau sampai mereka tidak mencapai kompetensi, bukan lantaran mereka tidak memiliki kemampuan untuk itu tetapi lebih banyak akibat mereka tidak disediakan pengalaman belajar yang relevan dengan keunikan masing-masing karakteristik individual. Meskipun anak itu unik karena memiliki keragaman karakteristik, mereka memiliki kesamaan karena sama-sama memiliki: sikap ingin tahu (curiosity), sikap kreatif (creativity), sikap sebagai pelajar aktif (active learner) dan sikap sebagai seorang pengambil keputusan (decision maker). Dalam waktu 1x24 jam, kita belajar hanya 10% dari apa yang kit abaca, 20% dari apa yang kita dengar, 30% dari apa yang kita lihat, 50% dari apa yang kita lihat dan dengar, 75% dari apa yang kita praktekan, dan 90% dari apa yang kita tularakan kepada orang lain melalui ucapan dan perbuatan sendiri. Hal ini menunjukan bahwa jika mengajar dengan banyak berceramah, maka tingkat pemahaman siswa hanya 20%, tetapi sebaliknya, jika siswa diminta untuk melakukan sesuatu sambil melaporkannya, tingkat pemahaman siswa dapat mencapai sekitar 90%.
Dalam rangka mengembangkan kemampuan individual dan social meraka, pengaturan siswa dalam belajar hendaknya berganti-ganti antara belajar secara perorangan, berpasangan dan berkelompok. Pengaturan ini tentu disesuaikan dengan karakteristik bahan ajar yang dipelajari. Pada dasarnya tiap individu siswa harus berkembang kemampuannya secara optimal. Oleh karena itu, ketika mereka belajar secara berpasangan terutama berkelompok, guru harus mendorong tiap siswa untuk berperan serta dalam kelompok tersebut. Meminta siswa yang tidak aktif untuk memberikan pendapat terhadap pendapat siswa lain atau melaporkan hasil kerja kelompok, merupakan contoh cara mendorong tersebut. Hal yang perlu dihindari adalah guru mengganti siswa yang melaporkan dengan siswa lain hanya karena siswa pertama kurang lancar melaporkannya, atau mengganti siswa yang tulisannya belum bagus dengan siswa lain yang sudah bagus. Jika demikian kapan siswa yang kurang bagus tersebut terlatih untuk itu?. Bukankah keadaan tersebut membuat siswa yang “pandai” semakin pandai dan yang “bodoh” semakin bodoh?. Tugaskan siswa pandai untuk memberikan penjelasan kepada siswa yang kurang pandai (tutor sebaya). Demikian juga, anjurkan siswa kurang pandai untuk bertanya kepada atau meminta penjelasan dari siswa pandai terlebih dahulu sebelum kepada gurunya. Hal ini untuk menanamkan kesan bahwa belajar itu bisa dari siapa saja, tidak selalu dari guru yang akibatnya tergantung kepada guru. Dengan cara ini pula diharapkan dapat menghilangkan “mitos” bahwa gurulah yang paling tahu dan paling benar.
Model pembelajaran satu lawan satu menunjukan bahwa belajar merupakan proses siswa membangun gagasan/ pemahaman sendiri, maka kegiatan pembelajaran hendaknya mampu memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada siswa untuk berbuat, berfikir, berinteraksi sendiri secara lancar dan termotivasi tanpa hambatan guru. Suasana belajar yang disediakan guru memberikan peluang kepada siswa untuk melibatkan mental secara aktif melalui beragam kegiatan seperti kegiatan mengamati, bertanya/ mempertanyakan, menjelaskan, berkomentar, mengajukan hipotesis, mengumpulkan data dan sejumlah kegiatan mental lainnya.
Dalam hal ini guru tidak memberikan bantuan secara dini dan selalu menghargai usaha siswa meskipun hasilnya belum sempurna. Selain itu guru mendorong siswa supaya siswa berbuat/ berfikir lebih baik, misalnya, melalui pengajuan pertanyaan menantang yang “menggelitik” , sikap ingin tahu dan sikap kreativitas siswa. Dengan cara ini, guru selalu mengupayakan agar siswa terlatih dan terbiasa menjadi pelajar sepanjang hayat.
  1. Membuat Pantun Dengan Model Satu Lawan Satu
Bentuk beberapa kelompok kecil (4-6 anggota). Sekelompok siswa membaca teks yang sama. Usai membaca, setiap anggota kelompok    menuliskan dua kalimat pernyataan  yang berhubungan dengan isi teks yang telah mereka baca. Masing-masing kalimat pernyataan memiliki suku antara 4-8 suku kata. Dua kalimat pernyataan itu menjadi isi sebuah pantun. Masing-masing pernyataan dipertukarkan dan temannya melanjutkan membuat pantun dengan menambahkan sampiran. Kegiatan berikutnya, masing-masing siswa membuat dua buah pernyataan lain yang berhubungan dengan teks. Kemudian dipertukarkan dan temannya menambahkan sampiran. Kegiatan ini dilakukan terus menerus sampai pantun yang diperoleh berjumlah sejumlah anggota kelompok.
Selanjutnya bentuk dua kelompok besar, nama masing-masing kelompok berbeda namun sejenis, seperti mawar dan melati, sapi dan kerbau, kumbang dan kupu-kupu. Masing-masing kelompok di bagi dua menjadi sub kelompok. Contoh: Kelompok Mawar (Mawar1, MAwar2); Kelompok Melati (Melati 1, Melati2). Setiap angggota Mawar1 bertugas membuat pantun berisi pujian terhadap bunga mawar, Mawar2 akan membuat pantun yang mengejek bunga melati; Melati1 membuat pantun yang memuji melati.
Kelompok Mawar dan Kelompok Melati berhadap-hadapan. Salah satu anggota membacakan pantunnya. Bila pantun itu memuji kelompoknya maka harus di balas oleh kelompok lain dengan memuji kelompoknya pula. Begitu sebaliknya. Pujian dan ejekan dilakukan terus menerus sampai salah satu kelompok tidak dapat menandingi pantun kelompok lain.


. DAFTAR PUSTAKA
Athdias, Subarti, 1996. Pembinaan Kemampuan menulis Bahasa Indonesia,                         Jakarta : IKPI
De Parter, Bobbi dan Mike Hernacki, 2005. Quantum Learning. Bandung : kaifa
Depdiknas, 2005. Kurikulum Berbasis Kompetensi Mata Pelajaran Bahasa Indonesia, Jakarta : Depdiknas.
Guntur, Hendri Taringan, 1995. Menulis Sebagai Suatu Keterampilan. Bandung : Angkasa.
Nasution, S. 1995. Berbagai Pendekatan Dalam Proses Belajar Mengajar. Jakarta : Bumi Aksara.
Ramli, Amir Tengku, 2005. Pumping Talent. Jakarta : pustaka Inti.
Sudjana dan Suwariyah, 1991. Model-Model Mengajar CBSA, Bandung : Sinar Baru




SILABUS
Standar Kompetensi               : Menulis
Mengekspresikan pikiran, perasaan, dan pengalaman melalui pantun
Kompetensi Dasar
Materi Pokok / Pembelajaran
Kegiatan Pembelajaran
Indikator
Penilaian
Alokasi Waktu
Sumber Belajar
Teknik
Bentuk Instrumen
Contoh Instrumen
Menulis pantun yang sesuai syarat-syarat pantun
Penulisan pantun
-       Membaca contoh-contoh pantun
-       Berdiskusi untuk menentukan syarrat-syarat pantun
-       Menulis pantun yang sesuai syarat-syarat pantun
-       Menyunting sendiri pantun sesuai syarat-syarat pantun
-     Mampu menentukan syarat-syarat pantun
-     Mampu menulis pantun
-     Mampu menyunting pantun sesuai syarat-syarat pantun
Tes  tulis


Tes unjuk kerja

Portofolio
Tes pilihan ganda


Uji petik kerja produk

Dokumen pantun
Salah satu syarat pantun adalah:
a.        Bersajak akhir ab ab
b.        Bersajak akhir aa aa
c.        Bersajak akhir aa bcd
d.        Bersajak akhir ab
Buatlah pantun yang terkait dengan masalah moral atau pendidikan
2x40’
Perpustakaan
Buku teks berbagai pantun

Mengetahui
Kepala MTsN Purwaharja


Drs. H. Asim, M.Pd.I
NIP. 196310161994031003
Banjar,   Mei 2011
Guru


Tati Sutiati, S.Pd
                             NIP. 197508072005012004






RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
Sekolah
:
MTsN Purwaharja
Mata Pelajaran
:
Bahasa Indonesia
Kelas/semester
:
VII/I
Standar Kompetensi
:
Mengekspresikan pikiran, perasaan dan pengalaman melalui pantun
Kompetensi  Dasar
:
Menuis pantun yang sesuai syarat-syarat pantun
Indikator
:
1.    Siswa mampu menentukan syarat-syarat pantun
2.    Siswa mampu menulis pantun
3.    Siswa mampu menyunting pantun sendiri sesuai dengan syarat-syarat pantun
Alokasi Waktu
:
2 x 40’ (1 pertemuan)

  1. Tujuan Pembelajaran
Siswa mampu menuis pantun yang sesuai syarat-syarat pantun
  1. Materi Pembelajaran
a.       Cara membuat pantun
b.      Membuat pantun yang sesuai syarat-syarat pantun
  1. Metode Pembelajaran
Metode satu lawan satu
  1. Langkah-langkah Pembelajaran
Kegiatan awal
a.       Siswa membaca contoh-contoh pantun
b.      Siswa dan guru berdiskusi untuk menentukan syarat-syarat pantun
Kegiatan inti
a.       Siswa menulis pantun yang memenuhi syarat-syarat pantun
b.      Siswas menyunting pantun sendiri sesuai dengan syarat-syarat pantun
c.       Siswa menyampaikan pantun dengan saling berbalasan
Kegiatan akhir
a.       Siswa dan guru melakukan refleksi
b.      Siswa dan guru merancang pembelajaran berikutnya berdasarkan pembelajaran saat itu
  1. Sumber Pembelajaran
Buku pelajaran Bahasa Indonesia
Buku teks berbagai pantun
  1. Penilaian
a.       Teknik                                           : Tes unjuk kerja
b.      Bentuk instrument                  : Uji petik kerja prosedur dan produk
c.       Instrument
1)      Buat 3 pantun yang terkait dengan masalah moral atau pendidikan
Pedoman Penskoran
kegiatan
Skor
Siswa membuat 3 pantun
2
Siswa membuat 1-2 pantun
1
Siswa tidak membuat
0

2)      Bacakan pantun yang telah dibuat
Pedoman Penskoran
Aspek Penilaian
Skor
Keterkaitan dengan moral/pendidikan

Ada keterkaitan
2
Tidak ada keterkaitan
1
Syarat-syarat pantun

Sesuai dengan syarat-syarat
2
Tidak sesuai dengan syarat-syarat
1
Pelafalan

Pelafalan kata secara jelas dan tepat
2
Pelafalan kata tidak  jelas dan tidak  tepat
1
Jeda dan Intonasi

Jeda dan Intonasi kata beraturan
2
Jeda dan Intonasi kata tidak beraturan
1

                                Skor Maksimal adalah 10
Nilai Akhir            = Perolehan skor              x              100         = …………..
Skor Maksimal


Mengetahui
Kepala MTsN Purwaharja


Drs. H. Asim, M.Pd.I
NIP. 196310161994031003
Banjar,    Mei 2011
Guru


Tati Sutiati, S.Pd
                  NIP. 197508072005012004


Tidak ada komentar:

Posting Komentar